Friday, 8 June 2018

Aku dan Kakakku



Ini mungkin sebuah
pengalaman yang paling gila
(menurutku), karena orang
pertama yang
mengajarkan seks kepadaku
adalah kakak kandungku sendiri. Aku
adalah seorang gadis
berumur 18 tahun (sekarang),
dan kakakku
sendiri berusia 23 tahun.
Sudah lama aku mengetahui kelainan yang ada pada diri
kakakku.
Karena ia sering mengajak
teman perempuannya


Kunjungi Juga


untuk tidur di rumah, dan
karena kamarku berada persis di sebelah kamarnya,
aku sering mendengar suara-
suara aneh, yang kemudian
kusadari adalah suara
rintihan dan kadang pula
teriakan-teriakan tertahan. Tentu saja meskipun orang
tuaku ada di rumah mereka
tak menaruh curiga, sebab
kakakku sendiri adalah
seorang gadis. Ketika aku mencoba
menanyakannya pada awal
Agustus 1998, kakakku sama
sekali tidak
berusaha menampiknya. Ia
mengakui terus terang kalau ia masuk sebuah klub
lesbian di kampusnya, begitu
juga dengan kekasihnya.
Waktu itu aku merasa jijik
sekaligus iba padanya, karena
aku menyadari ada faktor psikologis yang mendorong
kakakku untuk berbuat
seperti itu. Kekasihnya
pernah mengecewakannya,
kekasih yang dicintainya dan
menjadi tumpuan harapannya ternyata telah menikah
dengan orang lain karena ia
telah menghamilinya. Kembali
pada masalah tadi, sejak itu
aku jadi sering berbincang-
bincang dengan kakakku mengenai
pengalaman seksnya yang
menurutku tidak wajar itu. Ia
bercerita, selama menjalani
kehidupan sebagai lesbian, ia
sudah empat kali berganti pasangan, tapi hubungannya
dengan mantan-mantan
pacarnya tetap berjalan baik. Begitulah kadang-kadang,
ketika ia kembali
mengajak pasangannya untuk
tidur di rumah,
pikiranku jadi ngeres sendiri.
Aku sering membayangkan kenikmatan
yang tengah
dirasakannya ketika telingaku
menangkap suara
erangan dan rintihan. Aku
tergoda untuk melakukannya. Pembaca, hubunganku yang
pertama dengan kakakku
terjadi awal tahun 2000,
ketika ia baru saja putus
dengan pasangannya. Ia
memintaku menemaninya tidur di kamarnya, dan
kami menonton beberapa CD
porno, antara tiga

Kunjungi Juga




orang cewek yang sama-sama
lesbian, dan aku merinding
karena terangsang secara hebat
mengingat kakakku sendiri
juga seperti itu. Awalnya, aku meletakkan
kepalaku di paha
kakakku, dan ia mulai
mengelus-elus rambutku.
“Aku sayang kamu, makasih
ya, mau nemenin aku”, katanya berbisik di telingaku.
Mendengar hal itu, spontan
aku mendongakkan
wajah dan kulihat matanya
berlinang, mungkin ia
teringat pada kekasihnya. Refleks, aku mencium
pipinya untuk menenangkan,
dan ternyata ia
menyambutnya dengan reaksi
lain. Di balasnya
kecupanku dengan ciuman lembut dari pipi hingga ke
telingaku, dan di sana ia
menjilat ke dalam
lubang telingaku yang
membuat aku semakin
kegelian dan nafsuku tiba- tiba saja naik. Aku tak
peduli lagi meski ia adalah
kakakku sendiri, toh
hubungan ini tak akan
membuatku kehilangan
keperawanan. Jadi kuladeni saja dia. Ketika ia menunduk
untuk melepaskan kancing-
kancing
kemejaku, aku menciumi
kuduknya dan ia
menggelinjang kegelian. “Oh.. all..”, desahnya. Aku
semakin liar menjilati bagian
tengkuknya dan
memberi gigitan-gigitan kecil
yang rupanya disukai
olehnya. Ketika kusadari bahwa
kemejaku telah terlepas,
aku merasa tertantang, dan
aku membalas
melepaskan T-shirt yang ia
kenakan. Ketika ia menunduk dan menjilati
puting susuku yang
rupanya telah mengeras, aku
menggelinjang.
Kakakku demikian lihai
mempermainkan lidahnya, kuremas punggungnya.
“Oohh.. Kaakk, ah.. geli ”, Ia
mendongak kepadaku
menatap mataku yang
setengah terkatup, dan
tersenyum. “Kamu suka?”. “Yah..”,
kujawab malu-malu, mengakui. Ia kembali mempermainkan
lidahnya, dan aku
sendiri mengusap
punggungnya yang telanjang
(kakakku tak biasa pakai bra
ketika hendak tidur) dengan kukuku, kurasakan
nafasnya panas di
perutku, menjilat dan
mengecup. Aku memeluknya
erat-erat, dan mengajaknya
rebah di peraduan, lantas kutarik tubuhku sehingga ia
berada dalam
posisi telentang, kubelai
payudaranya yang
kencang dan begitu indah,
lantas kukecup pelan- pelan sambil lidahku terjulur,
mengisap kemudian
membelai sementara jemariku
bermain di pahanya
yang tidak tertutup. Aku
menyibakkan rok panjang yang dipakainya kian lebar,
dan kutarik


Kunjungi Juga



celana dalamnya yang
berwarna merah sementara
ia sendiri mengangkat
pantatnya dari kasur untuk memudahkanku melepaskan
CD yang tengah
dipakainya. Ketika aku meraba ke pangkal
pahanya, sudah
terasa begitu basah oleh
cairan yang menandakan
kakakku benar-benar sedang
bergairah. Aku sendiri terus menggelinjang
karena remasannya di
payudaraku, tapi aku ingin
lebih agresif dari pada
dia, jadi kubelai lembut
kemaluannya, dan merasakan jemariku menyentuh
clitorisnya, aku
membasahi jemariku dengan
cairan yang ada di
liang senggamanya kemudian
kuusap clitorisnya, lembut pelan, sementara ia
mendesah dan
kemudian meremas rambutku
kuat-kuat.
“Oh.. Yeahh.. Ukkhh, ahh,
terus, teruss, ahh”, celoteh kakakku dengan ributnya.
Aku terus
mengusap clitoris kakakku,
dan tiba-tiba
kurasakan tubuhnya
mengejang kuat-kuat, jemarinya meremas
punggungku, lantas ia
merebah lemas. Aku
memandang ke wajahnya
yang bersimbah
keringat, “Sudah Kak?” Ia mengangguk kecil dan
tersenyum.
“Thanks yah”, aku mengedik.
Aku belum puas, belum.
Kukeringkan jemariku
sekaligus kemaluan kakakku, kemudian aku
turun, dan menciumi pahanya.
“Ohh.. teruskan terus.. yeah..
terus..”, aku tak peduli
dengan erangan itu, aku
mendesakkan kepalaku di antara kedua pahanya dan
sementara aku mulai
menjilati selangkangannya,
kulepaskan ritsluiting
rok kakakku, dan menariknya
turun. Aku juga melepaskan sendiri celana
jeans pendek yang
tengah kupakai, kemudian aku
memutar badanku sehingga
kemaluanku berada tepat di
atas wajah kakakku. Ia mengerti dan
segera kami saling
menjilat, pantat serta pinggul
kami terus berputar
diiringi desahan-desahan
yang makin menggila. Aku terus menjilati
clitorisnya, dan kadangkala
kukulum, serta kuberi gigitan
kecil sehingga kakakku sering
berteriak keenakan.
Kurasakan jemarinya bergerak mengelusi
pantatku sementara
tangan kirinya merayap ke
pinggir dipan. Sebelum aku
menyadari apa yang ia
lakukan, ia menarik tanganku dan
menyerahkan sebuah penis

Kunjungi Juga



silikon kepadaku.
“Kak?”, bisikku tak percaya.
“Masukkan, masukkaan,
please.. ” Ragu, aku kembali ke posisi semula dengan ia
terus menjilati
clitorisku, kumasukkan penis
buatan itu perlahan-
lahan, dan kurasakan ia
meremas pantatku kuat- kuat, pinggulnya berputar
kian hebat dan kadang
ia mendorong pantatnya ke
atas, aku sendiri
menyaksikan penis itu masuk
ke lubang kemaluan kakakku dan asyik dengan
pemandangan itu,
kusaksikan benda tersebut
menerobos liang
senggamanya dan aku
membayangkan sedang bersetubuh dengan seorang
lelaki tampan yang
tengah mencumbui
kemaluanku. Lama kami
berada dalam posisi seperti
itu, sampai suatu ketika aku merasakan
ada sesuatu di dalam
tubuhku yang membuatku
seolah merinding
seluruh tubuh karena
nikmatnya, dan tahu-tahu aku menegang kuat-kuat,

Kunjungi Juga



“okh.. kaakk.. ahh.. ahh!”
Tubuhku serasa luluh lantak
dan aku tahu aku telah
mengalami orgasme, kucium
paha kakakku dan kumasukkan
penis silikon itu lebih
cepat, dan pada ritme-ritme
tertentu, kumasukkan
lebih dalam, kakakku
mengerang dan merintih, dan terus-terang, aku
menikmati pemandangan
yang tersaji di depanku
ketika ia mencapai orgasme.
Terakhir, aku mencium
clitorisnya, kemudian perut, payudara
dan bibirnya. Lantas
ketika ia bertanya, “Nyesel
nggak?” aku menggeleng
dengan tegas. Malam itu kami

Kunjungi Juga



tidur dengan tubuh telanjang
bulat, dan sekarang kami
kian sering melakukannya.